Keheningan dan Kesunyian Pulau Bali saat Nyepi

Posted: 03/05/2011 in Budaya

Pulau Bali dihuni 3,89 juta jiwa dan ribuan wisatawan mancanegara maupun nusantara yang menikmati liburan, terasa sunyi dan hening saat umat Hindu melaksanakan Tapa Brata Penyepian menyambut Tahun Baru Saka 1933, Sabtu (5/4). Sejumlah tempat wisata dan pusat perekonomian lain yang sehari-hari diwarnai kemacetan lalu lintas berubah total menjadi sunyi senyap bagaikan pulau mati tanpa penghuni. Hal ini karena umat Hindu “mengurung” diri melaksanakan empat pantangan.

Pantangan yang wajib dijalani sambil melakukan introspeksi diri berlangsung selama 24 jam sejak pukul 06.00 Wita sebelum matahari terbit hingga pukul 06.00 waktu keesokan harinya. Tapa Brata Penyepian pada peralihan tahun saka 1932 ke 1933 meliputi amati karya (tidak bekerja dan tidak melakukan aktivitas), amati geni (tidak menyalakan api/listrik), amati lelungan (tidak bepergian), dan amati lelanguan (tidak mengumbar hawa nafsu, tanpa hiburan/bersenang-senang).

Suasana hening dan sunyi juga terlihat di pedesaan di Kecamatan Marga, Kabupaten Tabanan, dan sejumlah desa di Kecamatan Rendang, Kabupaten Karangasem. Hanya suara alam yang terdengar serta pepohonan diterpa angin.

Perumnas Monang-Maning Denpasar, kawasan pemukiman yang dihuni sekitar 2.500 kepala keluarga dari berbagai etnis di Nusantara menghormati Hari Raya Suci Nyepi. Sepanjang jalan dan gang-gang tampak sepi, kecuali hanya beberapa pecalang (petugas keamanan desa adat) yang berjaga di ujung gang dan perempatan jalan.

Pemandangan serupa juga hampir terjadi di seluruh pelosok termasuk kawasan wisata Kuta, Nusa Dua, Sanur, dan kawasan wisata lainnya di Pulau Dewata. Wisatawan mancanegara yang sengaja berlibur di Bali bertepatan dengan Nyepi hanya diperkenankan melakukan aktivitas di dalam kawasan hotel tempatnya menginap.

Deretan sejumlah hotel berbintang di Pantai Kuta dengan tingkat hunian yang cukup menggembirakan juga memberlakukan ketentuan bagi wisman secara ketat, sehingga pantai yang sehari-hari ramai sebagai tempat berjemur sambil menikmati deburan ombak juga tampak sunyi senyap. Pantai berpasir putih sepanjang enam kilometer itu bebas dari kunjungan wisman, hanya deburam ombak dan tiupan angin yang berembus sepanjang pantai.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s